Mensyukuri Nikmat Islam dengan Meningkatkan Pemahaman dan Kesadaran Beragama

Bagikan Keteman :

Andik Irawan, S.Pd.I – Anggota Da’i Kamtibmas Porles Gresik

Hadirin yang dirahmati Allah,
Salah satu nikmat terbesar yang sering kita lupakan adalah nikmat Islam. Namun lebih besar lagi adalah nikmat beragama Islam dengan kesadaran, bukan sekadar karena lahir dari keluarga Muslim. Sebab agama tanpa kesadaran melahirkan kefakuman, sedangkan agama yang dipahami melahirkan kekuatan. Dan kekuatan inilah yang menjadi pondasi kokoh bagi tegaknya Kamtibmas.

Saudaraku,
Bagaimana cara kita mensyukuri nikmat Islam?
Salah satunya adalah dengan meng-upgrade pemahaman, sehingga kita yakin secara logis, secara akal, mengapa kita ini memilih Islam. Jangan sampai kita beragama karena ikut-ikutan, tetapi karena benar-benar memahami bahwa agama ini adalah petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa.

Langkah pertama adalah memahami bahwa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib adalah Nabi terakhir dan utusan Tuhan.
Mengapa kita yakin? Karena dasar keyakinannya sangat logis: beliau seorang yang ummi—tidak bisa membaca, tidak bisa menulis. Namun bagaimana mungkin seorang yang tidak menulis dan tidak membaca dapat menghadirkan kitab 30 juz, 114 surat, dan 6.666 ayat—yang kedalaman bahasanya, ketepatan hukumnya, dan keindahan susunannya tidak tertandingi oleh karya manusia mana pun?

Hadirin,
Al-Qur’an bukan tulisan Muhammad. Ia adalah firman Tuhan yang diturunkan melalui malaikat Jibril. Dan Al-Qur’an sendiri menantang siapa pun untuk membuat satu surat saja yang serupa—dan sampai hari ini, tidak ada yang mampu. Jika Nabi Muhammad yang ummi itu dituduh sebagai penulis, maka itu mustahil secara logika, mustahil secara sejarah, dan mustahil secara ilmiah.

Lebih dari itu, kandungan Al-Qur’an justru semakin terkonfirmasi kebenarannya di zaman modern.
Banyak fenomena alam, proses penciptaan manusia, struktur langit, siklus air, pergerakan angin, hingga fenomena laut dan gunung yang baru dipahami manusia di era teknologi, padahal semuanya sudah disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari 1.400 tahun yang lalu.

Mungkinkah itu ucapan manusia?
Mungkinkah seorang yang hidup di padang pasir, tanpa sekolah, tanpa laboratorium, tanpa teleskop, tanpa mikroskop, bisa menjelaskan hal-hal yang baru ditemukan abad ke-20 dan ke-21?
Tentu tidak. Itu adalah ucapan Tuhan—firman Tuhan yang Maha Mengetahui segalanya.

Maka syukurilah nikmat Islam ini dengan pemahaman yang dalam.
Karena ketika keyakinan kita tegak di atas ilmu, maka ibadah menjadi mantap, akhlak menjadi kuat, dan kehidupan menjadi terarah.

Dan di sinilah kaitannya dengan Kamtibmas.
Warga yang beragama dengan kesadaran, bukan ikut-ikutan, adalah warga yang paling mudah diatur, paling taat hukum, dan paling kuat moralnya. Ia tidak korupsi karena tahu Allah Maha Melihat. Ia tidak berzina karena tahu Allah Maha Mengawasi. Ia tidak menipu, tidak merusak, tidak membuat keresahan, karena keyakinannya sudah kokoh, bukan rapuh.

Sebaliknya, masyarakat yang beragama tanpa pemahaman, mudah sekali terseret provokasi, mudah marah, mudah tersinggung, bahkan mudah melakukan kekerasan atas nama agama. Inilah yang melemahkan Kamtibmas.

Karena itu, meningkatkan pemahaman agama bukan hanya perintah Tuhan, tetapi juga kebutuhan sosial demi menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.

Hadirin sekalian,
Marilah kita syukuri nikmat Islam dengan memperdalam pemahaman. Dengan begitu, kita bukan hanya menjadi hamba yang taat, tetapi juga menjadi warga negara yang beradab, bermoral, dan ikut serta menjaga Kamtibmas.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai umat yang memahami agamanya dengan benar, mengamalkannya dengan tulus, dan menjaga negeri ini dengan iman dan takwa.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Related posts

Leave a Comment